MTs ISLAMIYAH KEMBANGBAHU

Jl . Raya Kembangbahu No. 68

MADRASAH HEBAT BERMARTABAT

Gus Baha dan Dialog Islam-Yahudi

Jum'at, 22 Januari 2021 ~ Oleh admin ~ Dilihat 438 Kali

Saya mengikuti kajian-kajian KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) sudah beberapa tahun yang lalu. Kira-kira pada masa akhir hayat KH. Sahal Mahfudh, ketika saya dan beberapa kawan, mendapat amanah untuk mengembangkan Fiqih Sosial Institute (FISI). 

 

Oleh : MUNAWIR AZIZ

Pada waktu itu, dalam diskusi-diskusi yang membahas fiqih sosial, kami sering membincang tentang intelektual-intelektual muda dari pesantren yang mampu mendobrak khazanah pemikiran akademik.

Beberapa di antaranya, sering diudang di forum-forum diskusi di Institute Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA), Kajen, Pati, Jawa Tengah, dimana kajian fiqih sosial dikembangkan. Di antara yang menjadi pembahasan, yakni kepakaran Gus Baha dalam mengkaji ilmu fiqih yang dipadukan dengan khazanah tafsir Alquran.

Dalam beberapa serial tulisan yang lalu tentang Gus Baha di Alif.ID, telah diulas bagaimana jaringan intelektual serta perjalanan panjang beliau mondok, nyantri dan tabarukkan dengan beberapa kiai. Pada tulisan ini, saya ingin mengembangkan spektrum kajian tentang bagaimana Gus Baha menjadi jembatan dialog Islam dan Yahudi.

Topik ini, menjadi konsentrasi saya pribadi dalam beberapa tahun terakhir, ketika menekuni kajian anti-semitisme di Asia Tenggara. Saya membaca ribuan artikel, jurnal, dan buku serta laporan riset tentang diaspora orang Yahudi di berbagai belahan dunia. Juga, menelaah bagaimana pandangan anti-semit terbentuk.

Nah, pada ruang diskusi tentang Islam-Yahudi yang sangat sensitif, terutama terkait dengan konflik Israel-Palestina dan perang di Timur Tengah yang tak pernah surut, Gus Baha menawarkan perspektif untuk melihat relasi Islam dan Yahudi secara lebih jernih. Sebuah sikap yang bijak, dari kiai pesantren yang berlatar belakang Nahdliyin, di tengah arus kebencian terhadap Israel dan Yahudi yang demikian massif di negeri ini.

Menurut Gus Baha, para santri harus mampu membaca tafsir Alquran dengan perangkat tarikh dan ilmu geopolitik, agar lebih komprehensif dalam menikmati pengetahuan dari Allah. Cara Gus Baha mengulas dinamika Islam dan Yahudi, yang mengalami pasang surut relasi dalam sejarah, sangat menarik jika melihat basis nalarnya yang mengakar pada tradisi pengetahuan pesantren.

“Bani Israel itu secara kitab yang mujma’ alaih (tidak ada pertentangan) itu dzurriyatu Ya’qub, yakni keturunannya Nabi Ya’qub. Karena dzurriyah itu genetik, maka siapa saja yang berdarah atau keturunnya Nabi Ya’qub itu disebut Bani Israel,” demikian ulasan Gus Baha.

Gus Baha mengungkapkan bahwa orang-orang modern, khususnya dari publikasi ilmiah dan akademisi Barat, sangat berbeda dalam menyebut istilah Israel. Dalam penyebutan Alquran, siapa saja yang keturunan Nabi Ya’qub, dia berhak disebut sebagai Bani Israel. Jadi relasinya genetik, melampaui batas-batas teritorial.

“Sehingga salah sekali, jika Sampeyan memaknai Bani Israel sebagai nation, sebagai negara, dimaknai sebagai Bani Israel seperti yang ada di Alquran. Bani Israel itu orang Yahudi yang hidup pada zaman Nabi Muhammad Saw, yang bermukim di Madinah. Mereka inilah keturunan dari Nabi Ya’qub, yang beranak pinak hingga masa kenabian Muhammad. Kelompok Yahudi inilah, yang disebut dalam Alquran sebagai Bani Israil,” demikian ulasan Gus Baha.

Konsep Bani Israel yang terkadung di Alquran, berbeda dengan penyebutan Israel sebagai negara. Dalam hal ini, menurut frame tata pemerintahan modern, siapa saja yang menjadi warga negara Israel, maka disebut sebagai bangsa Israel, yang dibuktikan dengan identitas administratif, yakni passport, kartu tanda penduduk, maupun identitas lainnya.

Istilah bangsa Israel inilah yang harus dipahami oleh masyarakat sekarang ini. Gus Baha mengungkapkan, bahwa terjadi kerancuan dalam memahami Israel sebagai bangsa-negara, dengan Bani Israel yang disebut dalam Alquran.

“Kalau Bani Israel yang disebut di Alquan, itu jelas jalurnya genetik, yang merupakan anak turun Nabi Ya’qub. Baik yang bermukim di Madinah, Palestina, maupun–bisa saja–yang tinggal di Indonesia. Karena istilah ini tidak terkait dengan teritorial,” jelas Gus Baha.

Dalam keterangannya, Gus Baha merasa penting mengungkapkan penjelasan ini, karena seringkali ada kerancuan dalam ceramah-ceramah ustadz, maupun perbincangan di kalangan awam, yang tidak menarik garis yang jelas antara Bani Israel yang disebut dalam Alquran dengan Israel yang merupakan identitas negara-bangsa.

“Wah, ya enak saja, kalau orang Israel yang suka membunuh warga Palestina itu dapat penjelasan ayat Alquran, wa inni faddholtukum ala al-‘alamin. Ini jelas sangat berbeda,” jelas Gus Baha dalam forum pengajian tafsir Jalalain, ketika membahas surat Thoha (20: 77-80).

Dalam riwayat kitab-kitab tarikh, disebutkan bahwa kawasan Syam, yang dalam istilah modern meliputi Syria, Lebanon, Palestina dan Israel, merupakan domisili dari Nabi Ya’qub. Karena, di kawasan itu ada wilayah bernama Kan’aan, yang merupakan tempat tinggal Nabi Ya’qub bersama kaumnya. Nah, di kawasan Kan’aan inilah putra Nabi Ya’qub yang bernama Yahuda dilahirkan. Istilah Yahudi ini berasal dari Yahuda, yang merupakan putra dari Ya’qub.

Dari konteks silsilah ini, menurut Gus Baha, menjelaskan genealogi yang jelas tentang Bani Israil serta asal mula penyebutan kaum Yahudi (Jewish). “Yahuda punya saudara seayah, tapi bukan seibu, yakni Nabi Yusuf dan Bunyamin. Nabi Yusuf, sebagaimana kisah-kisah di Alquran, pindah ke Mesir karena dimusuhi oleh saudara-saudaranya. Keturunan Nabi Yusuf kemudian berkembang di kawasan Mesir. Namun, dalam penyebutan kitab klasik yang menafsirkan Alquran, keturunan Nabi Yusuf ini tetap disebut sebagai Bani Israel,” ungkap Gus Baha.

Tentang batas wilayah Israel dan Palestina, memang menjadi perdebatan para sarjana yang mengkaji geopolitik Timur Tengah. Batas kawasan antara Israel, Palestina, Syiria, dan Jordania masih menjadi perdebatan, jika ditarik pada spektrum hukum internasional, sejarah Ottoman, kolonialisme Inggris dan Prancis, hingga bukti-bukti teologis yang bersumber dari Bible, Torah (kitab suci Taurat), dan Alquran.

Dalam penetapan wilayah Israel yang sekarang ini, PBB memberi acuan pada kawasan yang dulu dihuni oleh Nabi Ibarahim, Nabi Musa, Nabi Ishaq dan Nabi Ya’qub. Menurut Gus Baha, ini yang harus diperjelas cara pandangnya, agar menjadi berimbang dan adil.

“Memang secara gentleman, kita harus mengakui bahwa wilayah Israel sekarang itu juga bagian dari kawasan yang dihuni oleh Nabi Ya’qub dan Nabi Ishaq. Namun, kalau kita berpatokan pada standar ini, kita harus fair juga, bahwa yang berhak juga bangsa Arab. Karena, bangsa Arab juga termasuk keturunannya Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Ishaq dan Ya’qub,” terang Gus Baha dalam sebuah pengajian yang diupload di Youtube,

“Saya dalam beberapa majlis pengajian, menjelaskan bahwa orang Islam tidak bisa membenci orang Yahudi. Juga, orang Yahudi tidak bisa membenci orang Islam. Karena keduanya bersaudara. Yakni, dari silsilah ini, Yahuda ibn Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Ini dari jalur istri Nabi Ibrahim yang bernama Sarah,” papar Gus Baha.

Sementara, Nabi Ibrahim memiliki istri bernama Siti Hajar. Dari jalur Ibu Hajar inilah, Nabi Ibrahim memiliki putra bernama Ismail. Dengan demikian, Nabi Ismail dan Nabi Ishaq itu saudara seayah. Dari Nabi Ismail inilah kemudian berkembang bangsa Arab, di antaranya Qabilah Jurhum, yang menjadi muasal kabilah-kabilah Arab. Selanjutnya, dari jalur silsilah inilah, lahir Sayyid Adnan, yang dalam kitab-kitab tarikh, disebut sebagai nenek moyang Abdul Muthallib hingga Nabi Muhammad Saw.

Maka, dalam ulasan Gus Baha, konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina ini sebenarnya perebutan dinasti. Yakni, Dinasti Ibrahim yang melalui jalur Ismail, dan Dinasti Ibrahim yang melewati jalur Ishaq.

Gus Baha menjelaskan bahwa sudah saatnya dialog antara umat Yahudi dan Muslim maupun Nasrani, dengan kejernihan berpikir dan sama-sama adil dalam mengulas dasar-dasar teologis atau dalil yang bersumber dari ayat suci masing-masing agama. “Kalau mengikuti klaim pribadi, ini tidak ada habisnya. Namun, saya pribadi, dan semoga saja umat Islam pada umumnya, juga harus bisa berterima kasih dengan orang Yahudi,” ungkap beliau.

“Orang Islam itu imannya paling terlambat. Karena, iman terhadap kenabian Nabi Muhammad itu lebih dulu orang-orang Yahudi. Dalam kitab-kitab tarikh, disebutkan bahwa para Rabbi Yahudi mengetahui kenabian Muhammad dan mengimaninya.” Gus Baha berusaha memberikan ulasan yang lengkap tentang konteks sejarah, sosial politik dan relasi agama-agama, agar menjadi dasar pemahaman yang luas bagi santri-santri untuk memahami konflik di Timur Tengah, terutama Israel-Palestina.

Menurut Gus Baha, inilah paradoks dalam kitab-kitab tarikh. Pada awal dalail an-nubuwwah, tanda-tanda kenabian Muhammad, itu pasti yang diceritakan pendapat-pendapat para Rabbi Yahudi maupun pendeta Nasrani. Tapi, ketika Nabi Muhammad telah menjadi Nabi, dan diikuti oleh komunitas muslim di berbagai kawasan, musuh besarnya malahan orang Yahudi dan Nasrani.

Dalam relasi antara Muslim dan Yahudi, Gus Baha menawarkan kejernihan berpikir dalam menganalisa ayat Alquran, serta mengkontekstualkan dalam hubungan antar umat beragama era ini. Gus Baha merupakan sedikit di antara kiai-kiai muda pesantren, yang melihat secara komprehensif konflik Israel-Palestina, dalam perspektif teologis, konteks sejarah dan dinamika geopolitik yang melingkupinya. Ini tawaran yang segar di tengah serbuan kebencian terhadap umat Yahudi di Indonesia. Gus Baha membangun dialog Muslim-Yahudi dengan dasar cinta dan husnudzon, sesuatu yang jarang kita jumpai di negeri ini.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. A. FARIKHIN, S.Pd

Bismillahirrohmanirrohim Assalamu'alaikum War. Wab. Alhamdulillahirobbil alamin... puji syukur kami sampaikan ke hadirat Allah SWT. yang telah memberikan kenikmatan kepada kita…

Selengkapnya